ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Update News

Yuk, Singgalah Curug Telu di Desa Karangsalam

Senin , 07 Januari 2019 | 12:01
Yuk, Singgalah Curug Telu di Desa  Karangsalam
Objek wisata Curug Telu di Desa Karangsalam. (Foto: iNews.id)

BATURRADEN, ARAHDESA.COM - Jika berlibur ke kawasan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, singgahlah di Desa Karangsalam yang berada di sebelah tenggara lokawisata Baturraden. Desa yang terletak di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut itu, memiliki kondisi berbukit-bukit yang indah, hingga kian memantapkan posisi sebagai satu dari 12 desa penyangga objek wisata andalan Baturraden.

Potensi pariwisata Desa Karangsalam, Kecamatan Baturraden, kini kian mantap setelah menerima dana desa pada 2015. Pemerintah desa memanfaatkan dan tersebut untuk lebih mengembangkan potensi pariwisata.

"Pada tahun 2015, kami menerima Dana Desa sekitar Rp300 juta, kemudian tahun 2016 meningkat jadi Rp600 juta, tahun 2017 sebesar Rp814 juta, dan tahun 2018 mencapai Rp841 juta," kata Kepala Desa Karangsalam Daryono di Karangsalam seperti dilansir Antara.

Dana desa itu menurut Daryono, dimanfaatkan untuk mengembangkan pariwisata, sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa Karangsalam yang difokuskan pada pengelolaan objek wisata, terutama Curug Telu. "Pariwisata sudah terbukti memberi dampak yang sangat positif kepada warga, baik itu dampak upeningkatan ekonomi, mau pun menjadikan sumber pendapatan asli desa (PADes)," katanya.

Saat pertama menerima Dana Desa pada tahun 2015, Pemerintah Desa Karangsalam memanfaatkannya untuk penataan di kompleks objek wisata Curug Telu, termasuk akses jalan dan jaringan air bersih serta penyediaan fasilitas yang dibutuhan di objek tersebut.

Sementara pada tahun 2018, diputuskan menggandeng pihak ketiga untuk mengembangkan objek wisata baru berupa Camp Area Umbul Bengkok (CAUB). Daryono mengatakan, lahan seluas 450 ubin yang digunakan untuk CAUB merupakan tanah kas desa (bengkok) dengan nilai lelangan sebelum kontrak hanya sebesar Rp750 ribu per tahun. "Kemudian kami kerja sama (dengan pihak ketiga), nilai kontrak awal menjadi Rp1,4 juta per tahun. Di samping itu, ada peningkatan bagi hasil dari pengelolaan CAUB," katanya.

Hingga bulan Oktober 2018, tambahnya, tiket masuk CAUB yang sebesar Rp2.000 per orang sudah terjual sebanyak 2.449 lembar. Dari bagi hasil atas penjualan tiket tersebut, Pemerintah Desa Karangsalam memperoleh pendapatan sebesar Rp500 ribu ditambah biaya sewa lahan sebesar Rp1,4 juta. Dalam perkembangannya, kata dia, sudah dibentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Dekade Maju yang mengandung makna Derap Langkah Kaki Desa Maju.

"Ada tiga unit kegiatan yang kini ditangani BUMDes, yakni unit pengelolaan pariwisata, unit saprodi (sarana produksi), dan unit simpan pinjam. Unit pengelolaan pariwisata telah membentuk Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Tirta Kamulyan yang menangani objek wisata," katanya.

Menurut dia, Desa Karangsalam pada tahun 2018 menerima bantuan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi sebesar Rp460 juta untuk pengembangan sarana dan prasarana objek wisata berupa pembangunan toilet, gazebo, dan akses jalan.

Terkait dengan pendapatan asli desa yang diperoleh sejak adanya dana desa, Daryono mengatakan, pendapatan yang diterima pada tahun 2015 langsung dikembalikan ke desa untuk perbaikan sarana dan prasana.

Selanjutnya pada tahun 2016, pendapatan asli daerah sebesar Rp6,5 juta, tahun 2017 meningkat menjadi Rp14 juta, sedangkan pada tahun 2018 ditargetkan sebesar Rp17 juta dan telah tercapai sebanyak Rp15 juta.

"Kami berharap, Karangsalam ke depan bisa menjadi desa yang mandiri, sehingga tidak lagi mengandalkan dana dari pemerintah pusat. Apalagi objek wisata yang kami kembangkan dengan menggunakan dana desa telah menumbuhkan perekonomian warga dengan membuka warung makan, termasuk objek wisata baru, sehingga makin banyak wisatawan yang datang ke Karangsalam," katanya.

Sumber: arahdestinasi.com

Editor : Farida Denura
KOMENTAR