ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Update News

Cita Rasa nan Eksotis Kopi Cap Maraddia, Legenda Baru dari Tanah Mandar

Senin , 11 Maret 2019 | 10:22
Cita Rasa nan Eksotis Kopi Cap Maraddia, Legenda Baru dari Tanah Mandar
Kopi Cap Maraddia merupakan produk olahan kopi asli yang berasal dari Tanah Mandar atau Sulawesi Barat. (Kemendes PDTT)

KOPI Cap Maraddia merupakan produk olahan kopi asli yang berasal dari Tanah Mandar atau Sulawesi Barat. Kopi dipetik pada kondisi merah matang sempurna, lalu diproses dengan proses pasca panen yang tepat sehingga menghasilkan biji kopi berkualitas. Kopi Maraddia diolah oleh generasi muda di Polewali Mandar menggunakan teknik terbaik untuk menghadirkan cita rasa kopi yang eksotis.

Usaha kopi Tjap Maraddia mempunyai beberapa jenis produk di antaranya kopi bubuk robusta Cap Maraddia, kopi bubuk arabica Cap Maraddia, kopi blend Cap Maraddia, green bean baik robusta maupun arabica. Kopi Cap Maraddia memiliki aroma yang khas sehingga mampu menstimulasi hormon adrenalin untuk menghadirkan semangat untuk beraktivitas sekaligus menghilangkan kantuk.

Karena bahan baku kopi dipetik dalam kondisi merah matang sempurna, maka kandungan pholyfenolnya masih tinggi. Pholyfenol merupakan zat anti radikal bebas dan anti penuaan dini hingga para peminum Kopi Maraddia selalu tampak awet muda.

Kopi Cap Maraddia memiliki tingkat kematangan sangrai hingga level dark city sehingga memberikan citarasa yang kompleks. Fragrance, flavour, acidity dengan body yang lebih soft hingga lebih nimat diseruput meskipun tanpa pemanis. Dikemas dalam kemasan alufoil berwarna keemasan menghadirkan kemewahan tersendiri sebagai produk berkualitas dan eksklusif. Memberikan kesan dan prestise istimewa.

Para punggawa Kopi Cap Maraddia pernah mengikuti Program Inkubasi Bisnis bidang Produksi dan Pemasaran yang diselenggarakan oleh Subdit Inovasi dan Penerapan Teknologi, Ditjen Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Desa PDTT. Mereka berlatih meningkatkan kualitas produksi dan perluasan pemasaran produk melalui online-marketing.

Kini, kopi Cap Maraddia mampu menembus pasar dunia. Kopi Cap Maraddia tak hanya bisa dinikmati di Indonesia, tapi sudah merambah ke sejumlah negara, seperti Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Jerman, dan Belgia. Tak berlebihan jika Kopi Cap Maraddia dianggap sebagai legenda baru kopi Mandar.

Untuk mendapatkan barang yang berkualitas, tentu diperlukan sebuah proses produksi yang sesuai dengan standarisasi. Ada sejumlah perlakuan yang diberikan untuk menghasilkan kopi Maraddia, seperti perlakuan pasca panen yang tepat di mana kami hanya memanfaatkan buah kopi yang berwarna merah matang sempurna.

Tentu saja dalam pemetikan selalu saja tanpa sengaja terikut buah yang belum matang sempurna ataupun juga buah yang sudah terlalu matang hingga berwarna hitam, sehingga sebelum diolah lebih lanjut diadakan sortasi buah.

Lalu, buah yang telah disortir selanjutnya dipecahkan kulitanya lalu dicuci hingga bersih. Setelah bersih, kopi kemudian difermentasi beberapa jam untuk membentuk citarasa. Kopi juga dicuci kembali lalu dikeringkan hingga mencapai kadar air 14 %-15%.

Biji kopi kemudian dimasukkan ke mesin huller untuk memisahkan biji dengan kulit tanduk yang masih tersisa. Selanjutnya, biji kopi yang telah bersih dijemur kembali hingga memperoleh kadar air 12 %. Biji kopi yang sudah bersih dan kering kemudian disangrai hingga level dark city. Biji kopi dibubuk dengan mesin pembubuk lalu ditimbang dan dikemas.

Kopi Maraddia tak sekadar menawarkan kopi sebagai minuman bercitarasa eksotis, namun proses pembelajaran atas keberhasilan kopi menorehkan begitu banyak filosofi dalam rentang sejarah masyarakat Mandar. Karena itu, sejak berdiri kopi Cap Maraddia senantiasa terlibat sebagai sponsor untuk upaya pelestarian kebudayaan lokal.

Usaha Kopi Cap Maraddia dikelola CV Maraqdia Putra Agung dan beralamat di Desa Tapango Barat, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Pengelola usaha ini Zulfihadi dan dapat diakses melalui laman http://kopimandar.com

Editor : Farida Denura
KOMENTAR